Sambut Hari Bahkti Adhyaksa ke 62 dan HUT IAD ke 22, Kejari Tanjung Jabung Barat Santuni Anak Panti Asuhan dan Purnaja di Tanjab Barat Diduga Proses Tender Cacat Hukum, Rekanan Bakal Pidanakan Pokja Banyak Salah Lokasi, Proyek di Dinas PU PR Tanjabbar Dibatalkan Bupati Tanjab Barat Serahkan Bantuan Korban Banjir di Kecamatan Betara

Home / Berita / Bisnis / Ekonomi / Energi / Finansial / Industri / Infrastruktur / Nasional

Sabtu, 28 Februari 2026 - 14:37 WIB

Sentuhan PHE Jambi Merang Ubah Singkong Jadi Sumber Harapan

Musi Banyuasin, 27 Februari 2026 – Menjelang azan Magrib, dapur-dapur di Desa Simpang Bayat yang berada di sekitar wilayah operasi PHE Jambi Merang mulai sibuk. Aroma cendol dawet yang manis bercampur dengan aroma cuko yang mendampingi hidangan pempek. Tak banyak yang tahu, sebagian sajian berbuka itu kini dibuat dari tepung mocaf—tepung berbahan dasar singkong yang diolah sendiri oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Embun Pagi.

 

KWT Embun Pagi merupakan kelompok binaan PHE Jambi Merang yang berada di Dusun Selaro, Desa Simpang Bayat, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Penduduknya sangat akrab dengan singkong yang ditanam di lahan kebun maupun pekarang rumah. “Panen singkong di sini banyak. Tapi ya gitu, harga singkong per kilonya murah sekali. Cuma dua ribu per kilo,” ungkap Riyanti, 45, salah satu anggota KWT Embun Pagi. Jika hanya mengandalkan panen singkong, menurutnya tidak cukup untuk kebutuhan hidup.

 

Ia mengakui perubahan mulai terasa setelah kelompoknya mendapatkan pendampingan dari PHE Jambi Merang dalam pengembangan produk mocaf. Produksi yang sebelumnya telah berjalan, diperkuat dari sisi kualitas, standarisasi proses, hingga kemasan dan pemasaran. Melalui proses fermentasi, pengeringan, dan penggilingan yang lebih terstruktur, singkong kini diolah menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih optimal.

BACA JUGA  Terkait Insiden di Pematang Buluh, Petrochina Siap Kerjasama dan Transparan dengan Semua Pihak

 

“Awalnya kami ragu, apakah rasanya bisa sama seperti terigu. Ternyata enak, malah lebih ringan,” kata Riyanti sambil menunjukkan kemasan mocaf produksi kelompoknya yang kini sudah berlabel. Satu kilo tepung mocaf dibanderol Rp 34.000,-, berkali-kali lipat dibanding hanya menjual singkong utuh saja. Produk sampingan selain mocaf, KWT Embun Pagi juga membuat eyek-eyek. Itu adalah kudapan ringan dari singkong yang renyah.

 

Riyanti juga bersyukur PHE Jambi Merang selain melatih pemasaran juga aktif mempromosikan tepung mocaf ini. PHE Jambi Merang memang kerap mengusung tepung mocaf dari Desa Simpang Bayat ini di berbagai pameran kabupaten maupun provinsi, misalnya saja Sriwijaya Expo di Palembang. Riyanti yakin dengan promosi itu, paling tidak masyarakat mengenal tepung mocaf dan manfaatnya.

 

Di bulan Ramadan, konsumsi makanan berbasis tepung meningkat. Tepung mocaf bisa menjadi alternatifnya. Tepung mocaf pada dasarnya merupakan sumber karbohidrat seperti halnya terigu, namun memiliki keunggulan karena bebas gluten dan cenderung lebih mudah dicerna bagi sebagian orang. Ketika berpuasa, makanan yang mudah dicerna menjadi penting agar lambung yang kosong seharian tidak “terkejut” oleh asupan yang terlalu berat.

 

BACA JUGA  Bupati Tanjab Barat Hadiri Wisuda Angkatan XX Institut Agama Islam (IAI) An Nadwah Kuala Tungkal

Untuk takjil, olahan mocaf dapat dijadikan bakwan dan pisang goreng yang renyah. Untuk sajian berbuka, mocaf diolah menjadi brownies kukus, bolu pandan, dan kue lapis. Bahkan untuk persiapan Lebaran, tepung ini dipakai membuat nastar, kastengel, dan putri salju yang tak kalah lembut dari tepung terigu.

 

Manager Community Involvement & Development (CID) Regional 1 Iwan Ridwan Faizal mengatakan bahwa mocaf dapat membantu mengurangi ketergantungan pada tepung terigu berbasis gandum impor. Bagi warga, ini berarti rantai produksi yang lebih dekat, biaya yang lebih terkendali, serta membuka peluang nilai ekonomi baru bagi masyarakat desa.

 

“Program pemberdayaan masyarakat dirancang agar bergulir memberikan manfaat langsung terhadap kelompok dan secara tidak langsung berkelanjutan berdampak ke ekonomi masyarakat. Program ini memberi kesempatan bagi para ibu rumah tangga untuk lebih berdaya dan terlibat dalam aktivitas ekonomi. Sementara bagi masyarakat, ini menjadi simbol kemandirian pangan lokal,” jelasnya.

 

Di bulan yang mengajarkan makna berbagi dan keberkahan, kenyalnya cendol dan gurihnya pempek dari mocaf menjadi saksi bahwa kemandirian bisa tumbuh dari potensi lokal. Dari singkong yang dulu dipandang biasa, kini hadir mocaf yang tak hanya menguatkan sajian Ramadan, tetapi juga menguatkan ekonomi keluarga (*)

Share :

Baca Juga

Berita

Kabut Asap, Mulai Besok Siswa PAUD, SD dan SMP Se Tanjab Barat Belajar Jarak Jauh

Berita

Safari Jum’at: Bupati Tanjab Barat Salurkan Bantuan, Sampaikan Pesan Pembangunan

Berita

Dinas PUPR Tanjab Barat Berang, Uang Ganti Rugi Tiang WFC Baru Dibayar 24 Juta

Berita

Malam Arakan Sahur, Pemkab Tanjab Barat Sediakan Gerai Vaksinasi

Berita

HUT ke-7 SMSI: Dari Badai Disrupsi Hingga Ancaman Perpres

Berita

DPC Partai Demokrat Tanjab Barat Gelar Pembekalan Caleg

Berita

Lantik Pejabat, Bupati Tanjabbar Ingatkan Jaga Integritas

Berita

Bupati Tanjab Barat Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran di Tungkal III